Dosakah Jika Kita Minta Diruqyah?

Dosakah Jika Kita Minta Diruqyah? – 

Dalam buku sahih ath Thib An Nabawi bagian fiqih pengobatan, dijelaskan bahwa ada 5 hukum berobat  yaitu :   mubah, sunnah, haram, syirik dan wajib  yang kesemuanya bergantung pada kondisi.
  1. hukum berobat bisa menjadi mubah. Dimana dilakukan atau tidak dilakukan pengobatan tidak mendapatkan pahala atau siksa. Seperti sakit flu, yang jika tidak diobati pun kita tahu dalam 3 hari imunitas tubuh akan mampu melawannya atau akan sembuh kembali.
  2. hukum berobat bisa bernilai sunnah dan mendapatkan pahala sunnah. Dimana seseorang melakukan pengobatan yang sesuai dengan anjuran sunnah, atau sesuatu yang pernah dilakukan/disetujui atau dianjurkan Rasulullah ﷺ.
  3. Hukum berobat bisa menjadi haram jika melakukan sesuatu keharaman (seperti  melihat aurat) dalam berobat atau menggunakan sesuatu yang haram seperti dengan mengkonsumsi daging atau minyak babi.
  4. Hukum berobat bisa menjadi syirik jika terdapat kesyirikan didalam  praktik atau tatacaranya. Seperti  seseorang menggunakan khodam /jin dan bergantung kepadanya, atau seseorang yang melakukan ritual syirik seperti menyembelih binatang untuk syaitan agar  mendapatkan bantuan dari syaitan.
  5. Hukum berobat bisa menjadi wajib jika penyakit yang ia derita menghilangkan  hak orang lain. Seperti seorang suami yang ‘lumpuh’ dan tidak mampu menggauli istrinya berbulan-bulan. Dalam hal ini seseorang tidak bisa berkata; “Aku bersabar dengan penyakit ini” disisi lain ia mengabaikan kewajiban terhadap kebutuhan bathin istrinya.
Kedokteran ala nabi semakin berkembang dan  menjadi solusi sehat untuk ummat. Ruqyah syar’iyyah (ruqyah yang tidak menyelisihi syariat), yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari ath Thib an Nabawi atau disingkat menjadi tibunabawi = kedokteran ala nabi yang terdiri dari Hijamah/Bekam, Ruqyah Syariyyah dan Herbal
Namun ketika hal ini mulai dikenal umum, ada segelintir pihak yang cemburu dan mulai mencari-cari kelemahan hukum syar’ie didalamnya. Jika, pihak yang mendengki ruqyah tersebut adalah pihak yang tersaingi dikalangan pengobat alternatif (dukun), pengobat alternative  moderen (tenaga dalam, pernafasan, kebatinan dll), ustadz dukun-kyai dukun-habib dukun dll maka kami pahami keresahannya karena lambat laun mereka akan tenggelam karena
Ada segelintir ustadz salaf yang menolak ruqyah dengan satu dalil yang ia bawa kemana-mana, dalil ini tentu saja mematahkan semangat umat yang sudah cendrung pada pengobatan yang menakjubkan ini. “Jangan minta diruqyah  nanti tidak masuk syurga tanpa hisab!”.
Mari kita lihat bersama dengan seksama dan  mendalam tentang histori dan nash-nash yang menjadi awal mula lahirnya kata “Ar Ruqyah As Syar’iyyah” ini hingga kita memahami kenapa ulama sekaliber Ibnul Qayyim Al Jauziyyah pun melakukan ruqyah yang kemudian diabadikan dalam karyanya.
Ruqyah berasal dari kata ‘ruqo’ yang artinya mantra. Dijaman  jahiliyyah tehnik pengobatan dengan memantrai ini sudah berkembang, ini bisa kita lihat dalam sebuah hadits dari ‘Auf bin Malik, beliau suatu ketika mengunjungi Rasulullah ﷺ dan berkata; “Pada masa jahiliyah aku pernah melakukan penjampian, lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut?” Beliau menjawab:
اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا
“Perlihatkan jampi kalian kepadaku! Tidak mengapa dengan jampi selama bukan perbuatan syirik.” 
Rasulullah ﷺ meminta sahabatnya untuk menunjukan bagaimana cara meruqyah yang ia lakukan sebelum berfatwa untuk mengizinkannya atau tidak. Hal ini menunjukan bahwa pada masa itu ada dua ruqyah, ruqyah yang baik dan ruqyah yang bathil.
Hal ini diambil dari riwayat hadits Kharijah bin Ash Shalt dari pamannya yang mengisahkan ketika ia baru selesai berbai’at kepada Rasulullah ﷺ dan sepulangnya ketika melewati perkampungan arab mereka dihampiri oleh sekelompok orang yang meminta tolong karena salah satu kerabatnya gila dan sudah diikat rantai atau besi. Kemudian beliau menyanggupi dan meruqyahnya dengan membacakan surat Al Fatihah selama tiga hari di pagi dan sore hari, beliau berkata;
“Saya kumpulkan ludah saya kemudian saya meludahkannya lalu seolah-olah ia sembuh dari penyakit gila. Kemudian mereka memberi saya hadiah, saya berkata: ‘Nanti dulu, hingga saya bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam.’ Saya pun bertanya kepada beliau lalu beliau bersabda: “Sungguh ada orang yang memakan dari hasil ruqyah batil, tapi engkau memakan dari hasil ruqyah yang benar.”
Hal ini menunjukan bahwa ada ruqyah bathil ada ruqyah yang diperbolehkan, dan yang dilarang adalah ruqyah yang mengandung kesyirikan didalamnya. Mari kita lihat lebih jauh lagi, agar kokoh keyakinan kita dan keraguan itu selama-lamanya.
Ada lebih dari 116 hadits yang mengisahkan tentang ruqyah dimasa Nabi ﷺ, belum lagi hadits-hadits tentang sakit dan obat-obatnya secara nabawi

Referensi.
Rehabhati

Sunan Abu Daud No. 3388
Musnad Imam Ahmad No. 20834

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Halo ! Silahkan klik tombol dibawah ini untuk memulai chat dan Melakukan Pemesanan

Pesan Sekarang