Mampu Melihat yang Ghaib, Kelebihan atau Kekurangan?

Tak hanya bisa memandang benda-benda yang kasat mata, sebagian orang juga memiliki kemampuan melihat makhluk gaib. Kemampuan ini diperoleh orang dengan cara melakukan ritual-ritual tertentu, tapi ada juga yang sudah memilikinya sejak lahir. Mereka yang dari kecil sudah mempunyai kemampuan “melihat” ini biasanya diturunkan dari orangtua atau kakek buyut mereka.

Terkait dengan hal ini, kita mengenal istilah anak indigo. Disebut-sebut memiliki indra keenam, anak indigo bisa melihat masa lalu, mengetahui kejadian masa depan, melihat atau berinteraksi dengan makhluk gaib. Selain itu, tingkat kecerdasannya di atas rata-rata sehingga pemikiran atau daya konsepnya luar biasa atau dapat menguasai banyak bahasa bahkan tanpa belajar. Namun, di kalangan ahli, anak indigo masih menjadi kontroversi. Sebagian menganggap ada, lainnya menolak memercayainya.

Jika memang anak indigo itu ada, yang menjadi permasalahan, dalam pandangan Ustadz Ammi Nur Baits, kemampuan hebat anak indigo melampaui batas kemampuan manusia. “Bila Nabi saw saja tidak mengetahui hal yang gaib, bagaimana mungkin kita meyakini anak indigo bisa menerawang masa depan, melihat kejadian masa silam, dan seterusnya?”

Terkait dengan kemampuan melihat makhluk gaib, tambahnya, ada dua kemungkinan yang dilihat, yaitu malaikat dan jin. Karena malaikat hanya menjalankan tugas yang diperintahkan Allah, maka yang paling mungkin dilihat adalah jin. Namun, sifat dasar jin, tidak dapat dilihat manusia kecuali dengan menampakkan diri menjadi makhluk lain sehingga bisa ditangkap indra manusia. Maka, orang yang bisa melihat jin itu karena memang jinlah yang memperlihatkan dirinya.

KEKURANGAN

Apa pandangan Islam mengenai kemampuan melihat jin ini? Menurut Ustadz Achmad Junaedi, Lc, terapis gangguan jin di Rumah Ruqyah Indonesia, itu bukan kelebihan, melainkan kekurangan. “Itu seperti kanker akidah, harus dibuang. Kalau ada anak kecil bisa hafal Qur’an, itu disyukuri kelebihannya. Tapi bisa melihat jin, seperti yang dimiliki anak indigo, dalam Islam itu tidak ada,” tekannya. Karena itu, orangtua seharusnya membantu anak meninggalkan hal itu. Caranya, urai Achmad, meruqyahnya, jangan mengikuti bisikan-bisikan, jangan dimanfaatkan untuk mencari uang, dan sebagainya.

Bagaimana jika kemampuan itu bisa dimanfaatkan untuk membantu sesama manusia?

Perlu diingat, misi besar jin itu menjauhkan kita dari Allah swt. “Yang masuk ke tubuh manusia itu jin yang bukan Muslim. Itu pasti ada misinya. Bila tidak bisa mendapatkan secara langsung, jin kan bisa mendapatkannya melalui manusia. Dia masuk ke tubuh orang sehingga orang itu mampu mengobati, misalnya, dan akhirnya memberi pernyataan-pernyataan yang salah,” pungkas Ustadz Aris Fathoni, S.Pd.I, terapis Rumah Ruqyah Indonesia.